Joplin, Si Anak Kambing

WhatsApp Image 2018-01-26 at 10.18.45 PM

Our First Family Photo

 

Advertisements

Bojo Oh Bojo

Sewaktu saya masih di Orlando, bojo pernah mengirimi fotonya dengan rambut yang semakin memanjang, tentunya dengan kalimat tambahan “aku tambah ganteng yo..”

Ahem. Saya mendegut ludah dan berharap keinginan memanjangkan rambutnya cuma temporary wish, dan segera musnah ketika bojo mematut diri di cermin lalu menyadari bahwasanya mukanya tambah bulet lek gondrong gitu.

1 minggu saya pulang ke Jakarta, melihat rambut keriting nan tipis dan lepek itu lambat laun memanjang, saya geram. Lalu saya cari foto bojo jaman dulu yang paling tampan tentunya berkat rambut yang terpangkas pendek dan rapih, untuk kemudian saya bikin meme perbandingan muka bojo dahulu dan sekarang.

PhotoGrid_1465848171502

Pemirsa yang baik hati dan budiman dipersilakan untuk menyumbangkan komentarnya. Suara terbanyak adalah penentu apakah bojo akan pangkas rambutnya atau tidak.

 

P.S: yang vote potong rambut nanti saya kasih hadiah buku. Bukunya tentu saja hasil colongan dari tumpukan kardus milik bojo yang memenuhi 3/4 dari rumah kontrakan kami ini. Hiks.

Welcome to Orlando!

Hari itu Jumat pagi dimana saya seharusnya mengambil libur kerja, leyeh-leyeh di rumah, nonton TV series di kasur, dan sorenya kami berencana untuk periksa ke dokter fertilitas. Semua kepanikan di mulai ketika saya iseng membuka email kantor dan mendapati 1 email dari bapak bos dengan judul “Rani: Going to Darden this weekend”

JLEB!

Tubuh mulai memanas pelan-pelan pertanda penyakit panic attack melanda.

Pak bos bertanya jenis VISA apa yang saya punya dan tanggal berlaku passport, lalu saya membalas singkat. Tak lama pak bos kembali membalas “Awesome! You’re going to Orlando tomorrow.”

Tapi pak.. saya belum siap-siap. Belum beli baju formal — kantor saya memang rada absurd, dengan membolehkan karyawan berpakaian sekenanya di kantor, jadi 4 tahun bekerja disana, nihil baju kemeja, blazer apalagi rok berbahan kain di dalam lemari baju –, belum ijin suami dan orang tua, belum beli koper gede, belum kangen-kangenan sama 2 ponakan, dan yang paling penting… belum siap mental dengan berita dadakan ini pak.

Alhasil pagi itu saya langsung kontak Nuran, mengabarkan berita dadakan ini. Nuran yang memang dari awal selalu mendukung karir saya langsung menyambut hangat. “Kamu harus pergi Mindus. Gak usah banyak mikir macem-macem.” Saya menutup telepon dengan degupan jantung makin kencang. Papa, mama, abang, adik dan keluarga di Jember pun bersuara sama: mendukung penuh saya pergi untuk waktu yang lumayan lama.

Oke. This is another challenge for me. Untuk kategori makhluk semacam saya yang belum pernah menginjakkan kaki di luar tanah air, ditambah gelar “direction retarded” oleh suami karena saya buta arah dari sejak dalam kandungan ibu; perjalanan ke Orlando sendirian adalah momok besar yang terus menghantui.

Gimana kalo saya nyasar di bandara Dubai yang gedenya naujubilah minzalik? Gimana kalo saya salah masuk pesawat dan nyasar ke Timbuktu? and so on and so fort.. Hari Jumat itu saya habiskan dengan berpeluh cemas dan berharap kalo ini semua cuma mimpi. Jumat malam ketika sebuah email masuk yang mengabarkan tiket dan akomodasi saya sudah siap, saya menepuk pipi dan bilang “oke Rani ini bukan mimpi. Get your shit together and deal with this!”

Sabtu pagi saya dan Nuran pergi ke rumah abang dengan tujuan pamit dan meminjam koper miliknya. Di rumah abang saya habiskan 2 jam penuh gelisah sambil terus menyiumi 2 botak cilik ini:

IMG-20160402-WA0010

Waktu berjalan cepat sehingga tibalah kami berdua di bandara Soekarno Hatta. Saya yang masih diliputi kecemasan cuma bisa remas-remas tangan suami dengan kencang.

“Mindus, nanti kamu bakalan kangen ndak sama aku?”

“Pasti dong.”

“Mindus, nanti kita teleponan tiap hari ya. Kamu harus tetap nemenin aku dari jauh..”

“Iya, sayang.”

“Mindus, kalo aku diculik bule ganteng di pesawat gimana dong?”

“Ndasmu cuk!”

 IMG-20160402-WA0022

Check-in done, telepon keluarga done, cium-peluk suami done; maka tibalah saatnya saya boarding ke dalam pesawat. Kegelisahan masih samar-samar hadir. Saya mantapkan pantat untuk duduk di dalam pesawat. Bismillah, semoga lancar semuanya..

***

Perjalanan CGK – DXB tidak terlalu membosankan. 8 jam di pesawat,  hiburan saya cuma inflight entertainment, free-flow drinks, dan short trip ke toilet untuk sekedar pipis dan cuci muka. Penumpang sebelah tampaknya tidak tertarik untuk basa-basi sekedar ngobrol ringan, maka saya menenggelamkan diri browsing film dan musik di pesawat.

3 April jam 4 subuh saya tiba di bandara Dubai. Harus transit selama 4 jam untuk kembali meneruskan trip ke Orlando. Ketika menginjakkan kaki di bandara Dubai, pertama kali yang saya lakukan adalah transit check-in, kemudian mencari free wifi untuk mengabari Nuran dan Malli — teman saya yang duluan ke Orlando.

Bandara Dubai yang amat sangat besar dan megah tidak membuat saya kehilangan arah. Banyak papan petunjuk arah yang berseliweran. 2 hal yang tidak saya sukai dari tempat ini: ketidakramahan petugasnya dan complimentary wifi cuma untuk 1 jam pertama. Untuk meneruskan wifi saya harus membayar $5.00 per jam nya. Alhasil, 5 jam transit di Dubai saya habiskan dengan cengak-cengok mencari papan petunjuk menuju Terminal A dimana saya harus menunggu untuk penerbangan berikutnya.

maxresdefault (1)

Dubai Airport dari jendela pesawat Emirates

 

13-08-06-abu-dhabi-airport-01

Inside DXB Airport

 

***

Di pesawat menuju Orlando, saya gelisah bukan kepalang. Bukan apa-apa, 18 jam di pesawat dalam keadaan cuaca buruk sungguh menyiutkan nyali. Tiap beberapa jam lampu penunjuk seat-belt menyala dan dari balik sana suara pramugari mengabarkan kalau diluar sedang mengalami badai dan penumpang diharapkan untuk duduk tenang. Duduk tenang ndasmu, mbak, sport jantung ini namanya.

Saya coba untuk tenang dengan menikmati tayangan Emirates inflight entertainment. Di salah satu folder musik, saya menemukan film dokumenter tentang Janis Joplin, dan beberapa album keren milik The Doors, The Rolling Stones, Bob Dylan dan  The Beatles. Alhamdulilah, selera musik Emirates lumayan keren. 70% waktu di pesawat saya habiskan dengan aktifitas ini, sisanya saya tidur.

Merem-melek-merem-melek, dan akhirnya tiba juga saya di MCO (Orlando airport) hari minggu tanggal 3 April jam 12 siang. Malli, teman saya ternyata sudah menunggu dari pagi untuk menjemput saya.

Keluar bandara, saya sempat keliling Orlando sebentar. Mampir ke Florida Mall untuk beli sim card, dan beli beberapa keperluan selama tinggal di sini. Orlando tidak seperti yang saya bayangkan; dengan memiliki banyak tempat pariwisata semacam Universal Studios , Disneyland, Seaworld, Orlando Eye, Orlando di bulan April sangatlah sepi.

Jarak dari satu bangunan dengan bangunan lain lumayan jauh. Perpaduan rumput hijau nan luas, rawa-rawa, bangunan kotak memanjang ke samping dengan warna yang hampir sama: kuning keabu-abuan membuat saya sering cipeh dan bergumam “kok bisa ya ada orang betah tinggal di Orlando” 😛

bahama-bay-resort-orlando

Rawa seperti ini sering kali ditemui di sepanjang jalan di Orlando

 

DCIM100GOPRO

Perempatan John Young Parkway & Central Fl Parkway dari atas 

 

 

NOTE: Catatan perjalanan 2 bulan yang lalu, baru sempat di posting hari ini ketika saya sudah meninggalkan Orlando. Hiks.. Rani anaknya pemalas.

 

 

The Sky is Grey

Pernah kau duga pertemuan ketiga itu akan datang, Grey?

Tidak?

Pun aku tak pernah menaksirkan bahwa pertemuan ketiga akan datang suatu masa nanti.

Kau pasti setuju bila kusemat lekat-lekat bahwa bagian pertama kita, khayali. Kita hidup dimana tanah memerah, langit bertabur Amaranths yang bermekaran. Kita kerap terbahak-bahak manakala mereka lalu lalang, sibuk bekejaran dengan koper kecil legam serta telepon digenggaman. Tak ada sensasi hidup yang tergesa-gesa. “diburu-burui” istilahmu saat itu. Kita mencucup bahagia secara sederhana: dengan presensi satu sama lain. itu saja.

Bila “banal” terlampau tak sopan, maka kupilih “jumud” untuk melabel fase kedua kita. Barangkali kau bosan mendapati parasku seketika kau bangun dari tidur. Bisa jadi aku yang muak mencium tubuh pejal bercampur keringatmu. Kita sering membodohi diri dengan mengukuhkan renjana agar kita tak dibayang-bayangi ketakutan. Padahal kau tahu ketakutan adalah sumber kekuatan terbesarmu. Sampai suatu ketika bahagiamu tak sesederhana bahagiaku. Kau lesap bersama senja yang litak.

+++

Pernah kau duga pertemuan ketiga itu akan datang, Grey?

Tidak?

Sebuah pesan yang menyebabkan di sudut ruangan itu aku menunggumu. Bagai dihujam peluru, kalbu bergemuruh riuh.

“Kaia..”

Sebuah tangan mendarat di bahuku. Tanganmu. Tangan yang dulu tak pernah luput menjejak di seluruh tubuhku.

“Sudah lama menunggu?”

Tanyamu pelan sambil meraih kursi dihadapanku. Ah, banyak garis muka yang tak kukenali disitu. Kulitmu memerah, guratan luka dimana-mana. Dari sekian banyak yang asing, hanya satu-dua yang masih teridentifikasi, seperti lekuk hidung mancungmu, matamu yang tersenyum, serta, ah, bau tubuhmu masih lekat kuingat sedari dulu.

“Belum, kok. Ini baru datang juga.”

“Kamu aku pesankan kopi tadi, gak apa-apa kan?”

“It’s ok. aku masih belum bisa menjauhkan diri dari kafein dan nikotin, kok.”

Matamu kembali tersenyum. Kau cabik bungkus rokok kretek itu dan segera membakarnya. Asap putih terkepul dr bibirmu yang tebal.

“Hei, ceritakan padaku tentang Bumi.” pintamu tanpa tedeng aling-aling.

“Kau tahu aku tak suka membicarakannya.”

“Tapi aku ingin tahu, Kai, betapa aku rindu dengan nama itu.”

“Buang rindumu jauh-jauh. Tak ada yang bisa kusampaikan, selain segera lupakan.”

“Kaia..”

Matamu berhenti tersenyum. Ada sendu sarat rindu disana. Tatapanmu menjelma telaga kelam yang sungguh saat ini tak ingin kuselam.

“Jadi ke kota mana lagi kau akan pergi, Grey?”

“Belum pasti, tapi tampaknya aku segera akan berhalu ke selatan. Kamu kan tahu, aku tak pernah sanggup untuk berlama-lama disatu tempat.”

“Ya, ya, ya. Paham betul karaktermu yang satu itu.” ujarku perlahan.

“Kaia..”

“Ya?”

“Maukah kau menelusuri indahnya Selatan bersamaku?”

“Buat apa?”

“Menemukan Amaranths yang bermekaran.”

+++

Pernah kau duga pertemuan ketiga itu akan datang, Grey?

Tidak?

 

Kali ini dering telepon di dini hari yang mengantarkanku menemuimu. Biasanya, jantungku merenyut keras menjelang pertemuan-pertemuan kita. Namun kali ini berbeda,  ada getar yang tak lucut dari jemariku yang terus-terusan memilin ujung selendang. Di sepanjang jalan, sopir taxi menyalakan radio. Sebuah lagu yang tak ku hafal lirik utuhnya, namun di beberapa kalimat sayup-sayup kudengar,

Would you take the wings from a bird so that they can’t fly?
Would you take the ocean’s roar and leave just a sigh?
All this your heart won’t let you do, this is what I beg of you
No, don’t, don’t, no, don’t take your love from me.

Matahari sudah tak terik lagi. Kulihat jarum jam sudah bertengger di angka 16.30. Taxi berhenti di pelataran parkir. Pepohonan disini sangat rindang, semilir angin meniup-niup dari belakang pundak. Kuikat kencang selendang agar tak terbawa angin. Jalanan setapak didepan menungguku.

Tepat 2 minggu yang lalu paket darimu datang ke alamatku. Sebuah selendang tradisional khas Selatan yang sedang kupakai saat ini, dan selembar surat. Kau menulisnya dengan tangan, biar lebih mesra katamu dulu.

Berhentilah membuatku tersaruk-saruk menemuimu. Kau sungguh lelaki bedebah yang berhasil menjadikan duniamu poros hidupku. Kau datang dan pergi sesuka hati, Grey. Apakah kau tak sadar ada kepedihan baru tiap kau pergi?

 

 

Perjalanan kali ini sungguh terasa berat, Grey.

 

12:41 pm | April 16, 2013

KABUT TANGKUBAN PARAHU

Jarum tajam cemara menusuk telapak cinta gemetar dan berapi-api, demam menggelepar.

masih hangat janji disekap kabut, ditidurkan rawa-rawa dibuaian batuk tangkuban parahu.

debu batu apung melesak tenggorokan, mendidihkan asap belerang goa-goa kebosananmu.

aku menunggumu 182 ribu tahun, disiram hujan kenangan berselimut racun asap belerang

Aku berbisik menyebut nama sirna di kawah-kawah beracun, tebing berasap tak menyahut.

kudengar macan tutul meraung, kijang menguik, membisikkan kehilanganmu beribu tahun.

bayang-bayang gelap daun manarasa, menyembunyikan rahasia langit menista adam-hawa.

aku tahu kegelisahan bersemayam di kawah-kawah beracun, berselimut jilatan api magma.

Racun asap kawah menyambar tawa tergelak, sekeping tawa berlari tersipu-sipu bunuh diri.

”masihkah engkau mengenalku?” sembur awan panas telanjang menyirami tebing tandus.

”aku tersesat?” berjuta jalan bercabang disiram racun asam tak lagi berujung ke afrika tua.

aku menyeru, tapi engkau meronta menyelusup cemas di ribuan bangkai belalang & kupu.

Aku menunggumu setua gunung sunda purba, menyimpan kerinduan pertama adam-hawa.

kabut terpendam, kudengar derai tawamu tersekap, berdesing menyusupi pori-pori gunung.

retakan aspal jalanan merahasiakan telapak luka, kembang bakung menyihir kesedihanmu.

aku masih mengenali airmata gelisah yang menari di kornea hitam, seringan serpihan salju.

Aku menunggumu 182 ribu tahun di tebing asap tangkuban parahu, bertasbih ledakan lava.

cinta yang gemetar merangkai ledakan suar api kehilangan ke daun-daun luruh membusuk.

kawah-kawah tak bernama mengenal kesepianmu, mendidihkan cerobong luka duka hitam.

”bila engkau kembali, apakah merindu seperti ledakan magma melesak dari perut bumi?”

Syair oleh Fadjroel Rahman, lagu di aransemen oleh Mukti-Mukti

~~~

Segila apapun saya terhadap musik rock, rock ‘n roll & psychedelic, ternyata kuping saya masih bisa menerima beberapa genre musik lain, salah satunya balada. Musik yang mewakili aspirasi rakyat. Untuk musisi lokal saya punya 3 musisi balada kesayangan: Iwan Fals, Mukti Mukti & Ary Juliyant.

Iwan Fals

Siapa yang tidak kenal Iwan Fals? maka dari itu tak perlulah saya singgung manusia setengah dewa yang punya pengikut taat bak nabi Muhammad itu. Ada banyak artikel yang akan menjelaskan lebih detail tentang Iwan Fals daripada tulisan iseng saya ini. hehe. 😀

Dua nama musisi berikutnya mungkin tidak begitu populer: Mukti Mukti dan Ary Juliyant. Mukti & Ary berangkat dari satu panggung kecil menuju panggung kecil lainnya. Mereka dua sosok musisi rendah hati yang bergerilya dari kampus ke kampus, dari kafe kecil di sudut kota Bandung, sampai kafe hangat di Lombok. Menyuarakan syair-syair perjuangan walau kadang terselip kata-kata rindu sebagai candu akan sisi romantisme mereka.

Mukti bersama gitar buatannya

Mukti Mukti

Mukti Mukti

Saya menonton konser Mukti Mukti pertama kali tahun 2002 sewaktu ada acara di kampus FASA Unpad. Mukti tampil di gedung PSBJ malam itu. Dibalik kesederhanaannya, Mukti adalah penggiat seni dan seorang aktivis. Mukti menaruh perhatian teramat sangat pada kegiatan seni dan agraria di Jawa Barat, khususnya kabupaten Garut. Banyak syair yang ia  ciptakan sebagai suara perwakilan kelompok tani dan buruh. Salah satu lagunya yang terkenal berjudul “Menitip Mati: The Revolution Is.”

Menitip Mati / The Revolution Is

Menitip Mati / The Revolution Is

lagu bisa dinikmati dari http://www.facebook.com/photo.php?v=565509016793603

Ary Juliyant

~~~

Ketika menilik folder draft di blog saya yang sudah bersarang laba-laba tebal ini, saya menemukan tulisan ini yang tersimpan sejak 3 tahun yang lalu. Ya sudah, mari tuntaskan tulisan ini segera.

Hingga kini saya masih mencintai 3 musisi ini. Bagi saya mereka adalah penetral hidup yang sudah menggila. Ketika kau menghadapi hari terburuk sekalipun, duduklah di suatu tempat, pasang 1 -2 lagu milik mereka, tarik nafas lalu pejamkan mata. Sungguh damai dan pelan-pelan hari burukmu terkikis oleh kesederhanaan musik, lirik indah dan suara yang khas dari mereka.

Berikut adalah playlist favorit saya dari Iwan Fals, Mukti Mukti dan Ary Juliyant:

  1. Mukti Mukti – Ah, Terlalu Mendung
  2. Iwan Fals – Di Air Mata Tidak Ada Air Mata
  3. Mukti Mukti – Catatan Wina
  4. Arry Juliyant – Blues Kumaha Aing
  5. Iwan Fals – Yang Terlupakan
  6. Arry Juliyant – Down in Timika Road
  7. Mukti Mukti – Sistem
  8. Iwan Fals – Belum Ada Judul
  9. Arry Juliyant – Over Hang
  10. Mukti Mukti – Semoga Tak Pernah Usai

Dan banyak lagi lagu-lagu keren milik mereka yang bisa dinikmati sambil duduk santai dirumah bersama orang tercinta.

Kalau saja ingin mendengar lagu Mukti Mukti, bisa mengunduh lagu-lagunya di situs berikut ini:

https://sites.google.com/site/lagumuktimukti/home

https://sites.google.com/site/lagumuktimukti/home/lagu-mukti-mukti

 

Selamat menikmati!

 

 

Image

Heart of Gold

Heart of Gold

I want to live, I want to give
I’ve been a miner for a heart of gold.
It’s these expressions
I never give
That keep me searching for a heart of gold.

And I’m getting old.
Keep me searching for a heart of gold
And I’m getting old.

I’ve been to Hollywood
I’ve been to Redwood
I crossed the ocean for a heart of gold.
I’ve been in my mind,
It’s such a fine line
That keeps me searching for a heart of gold.

— Neil Young

2 Years Now

mungkin tulisan ini hanya akan tersimpan di draft list blog saja, tapi bisa jadi kali ini saya memilih untuk menekan tombol Publish Post.  

 

biarkan malam ini saya meracau. Tuhan tahu saya sedang menyimpan rindu yang teramat dalam untuknya, Ia yang pergi malam ini, dua tahun yang lalu. Saya adalah orang yang selalu menyimpan lekat pecahan-pecahan kenangan. Ya, saya adalah si melankolis itu. Perempuan yang dengan gampangnya meneteskan air mata sekaligus terbahak-bahak ketika sebuah adegan kenangan datang tiba-tiba.

Tapi, ini sungguh berat. Begitu banyak kenangan indah kita, tapi tak satupun yang mampu mengenyahkan sedih ini. Saya masih tak mampu mengendalikan emosi dan terus mengutuki diri yang tak bisa merelakan kepergiannya. Sayapun sering mencoba mengelabui otak dengan stimulus seperti “dia tak pernah pergi, dia selalu menemani hari-hari saya, dari kejauhan…” Lagi-lagi kebodohan ini menjadi-jadi, karena memang tak bisa dipungkiri kini saya tak lagi dapat menatap wajahnya lekat-lekat, tak lagi bisa memeluk tubuhnya yang hangat, atau sekedar memainkan kerut di punggung tangannya. 

Nuran sering bilang bahwa salah satu terapi untuk melepas emosi adalah menulis. “Luapkan marahmu, sedihmu, frustasimu melalui tulisan, setelah itu barangkali kamu akan merasa lega.” katanya. Saya-pun berkali-kali berusaha menulis tentangnya, namun selalu terputus akibat tangis yang meledak. Tubuh saya boyak. Luluh lantak sebelum satu tulisan gentas. 

Yang saya inginkan sederhana: bagaimana saya bisa menikmati kenangan kita tanpa ada rasa sedih lagi. Saya ingin tersenyum ketika saya melihat deretan foto-fotomu. Saya ingin melepasmu dengan ikhlas. Tapi…

 

Ah sudahlah.

Berbahagialah disana.

Saya selalu mencintaimu.

 

Image